ngal(l)ah

pertandingan final melawan brunai darusalam (09/3) merupakan pertandingan yang penuh tanda tanya menurut saya. pada babak pertama kick off indonesia sudah menggempur brunai darussalam, bahkan hingga menit akhir bababak pertama indonesia masih mendominasi pertandingan kala itu.

walaupun pertandingan secara keseluruhan dikuasai oleh indonesai, artinya secara ball position indonesia lebih unggul, saya kira 60-40. peluang  indonesia untuk memenangkan partai final ini cukup besar, namun karena bermain di kandang brunai timnas menjadi kurang semangat. dari pertandingan babak pertama permainan indonesai mulai bagus dan memiliki ritme permainan yang indah sepanjang pertandingan berlangsung.

semua keindahan yang ada ketika pertandiangan babak pertama ternyata tidak bisa mengikuti pada babak kedua, malahan tak lama sejak ditiup peluit babak kedua brunai darussalam mampu menjebol gawang indonesia. sungguh mengenaskan, indonesia tertinggal 0-1, padahal brunai hanya mengandalkan tiga orang di depan, tetapi timnas kewalahan dengan tigak orang tersebut sampai goal yang kedua pun lahir dari serangan cepat anak-anak brunai yang memanfaatka kesalahan pemain timnas indonesia.

sampai babak kedua berakhir, sampai wasit meniup peluit tanda permainan berakhir indonesia ketinggalan 0-2 dari brunai darussalam. timnas tak satupaun mampu memberikan goal balasan bagi brunai darussalam. perjuangan timnas harus terhenti dan merelakan juara final tersebut diberikan kepada brunai darussalam. ternyata kekalahan ketika melawan bahrain masih menyisakan trauma yang mendalam bagi timnas, sehingga  kekalahan dalam pertandingan melawan brunai bisa terulang kembali.

ada apa dengan timnas?

timnas indonesia memang spesialis final, tetapi tak mampu menjuarainya. dari beberapa pertandiangan timnas memeng mampu masuk ke final namun ketika fianal timnas harus tertunduk kalah. apakah ini yang disebut dengan “demam final”?? jika benar demikian maka yang harus dicari adalah obat penawarnya. serta menacari solusi yang terbaik untuk mengembalikan “demam” tersebut untuk bisa pulih kembali.

sebetulnya jika kita runtut dari awal hingga akhir pastilah ada sesuatu yang salah, kemungkinan kesalahan itu dari dua arah, entah dari eksternal atau internal. kesalahan dari eksternal adalah gaya permainan indonesia dapat dibaca oleh lawan sehingga lawan dengan mudah menaklukan timnas. jangan jauh-jauh misalnya saja dari pertandingan melawan brunai darussalam.

sedangkan kesalahan dari internal itu sendiri adalah bagaimana para pemain mengendalikan diri mereka masing-masing, ada pengaruh bisikan setan yang membuat mereka menjadi arogan atapun menjadi over (sombong). sebelum pertandingan mereka memiliki anggapan bahwa mereka mampu mengalahkan brunai darussalam (ada unsur menremehkan lawan). optimis dengan meremehkan lawan itu berbeda, sehingga yang ada dalam diri kita adalah meremehkan lawan. sehingga lawan tersebut sebetulnya telah mengumpulkan berbagai kekuatannya dan sewaktu-waktu akan mereka keluarkan.

jadi, jagan pernah meremehkan musuh/lawan yang akan kita hadapai. tetap waspada karena kemajuan lawan tak dapat kita ketahui, dan kelabihan seseorang tak pernah kita tahu. jika terus-terusan meremehkan lawan maka selamanya kita akan kalah. ingat meremekan dengan rasa optimis itu berbeda, optimis tetap bersikap objektif  sedangakan meremehkan ada unsur menrendahkan/menganggap gampang lawan dan lain sebaainya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s