bertarung dangan UN

senin 16/04 kami melaksanakan Ujian Nasional, atau yang lebih akrab disingkat dengan UN [eja; u,en]. Sehari sebelum pelaksanaan UN, rasa cemas dan waswas menghantui kami. akupun merasakan hal yang sama, malahan salah satu trapi yang aku lakukan agar tidak terlalu stres dengan UN tersebut, aku memilih menguploadnya sebagai status di facebook ku. walau tidak menghilangkan rasa waswas tersebut, setidaknya perasaaan tersebut sedikit mengurang dari diri ku.

berita-berita yang beredar di televisi kebanyakan, sebelum UN siswa melakukan ziarah kubur dan mengadakan doa bersama. tujuannya adalah semoga diberikan kemudahan dan dapat lulus ujian. Menurut pandangan saya, hal ini cukup positif namun salah strategi. pasalnya dalam islam itu kita diajarkan untuk berusaha secara maksimal terlebih dahulu, baru setelah itu berdoa dan tawakkal. inilah yang menurut pandangan saya keliru, kebanyakan sewaktu les berlangsung malah tidak banyak yang datang, kemudian setelah waktunya mendekati barulah sadar. mungkin ungkapan ini sangat tepat untuk mereka yang jarang dan tidak pernah mau datang Les tambahan “berdo’a tanpa usaha itu sama saja bohong.”

Saya juga sempat menyaksikan salah satu berita yang cukup menggelikan, pensil yang akan digunakan untuk UN diberikan rajah oleh salah satu ustad, lantas apa hubungannya dengan UN??? padahal pensil itu hanya sebagai alat tulis yang biasa, untuk menentukan jawaban itu benar dan salah tergantung kepada pemegang pensil tersebut.

UN ternodai

pada pelaksanaan UN yang perdana, telah terdengar isu bahwa ada kebocoran kunci jawaban, hal ini banyak ditemukan sms yang beredar dikalangan siswa peserta UN. bahkan ada yang salah seorang mahasiswa dari pada yang ditangkap oleh polisi karena telah menyeberkan kunci jawaban kepada peserta UN.

Dari berbagai kejadian yang aneh, sampai kasus pembocoran kunci jawaban UN menjadi sebuah ciri tersendiri. inilah orang indonesia, inilah budaya indonesia yang saat ini mengalami transisi ke arah kehancuran. sungguh memalukan dan tidak layak untuk ditiru sama sekali. jika instansi pendidikan yang memiliki nilai-nilai kejujuran sudah dicemari dengan kecurangan maka sudah bisa dipastikan hanya akan melahirkan generasi yang bobrok moral/dekadensi moral.

padahal, instansi pendidikan seharusnya mampu menepis kecurangan-kecurangan yang terjadi. pasalnya benteng dalam diri seseorang adalah keilmuan yang ia dapat ketika disekolahnya dahulu. setiap orang pasti tahu baha curang itu merupakan tindakan yang salah, tidak jujur itu merupakan tindakan tidak terpuji, semuanya sudah paham akan hal ini. namun, seolah semuanya tidak tahu dan tidak mau tahu atau bahkan pura-pura tidak tahu. jika sudah demikian nasib negri ini akan dibawa kemana??? ke arah kehancuran ataukah ke arah kemajuan???

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s